Filsafat
Modern tentang Rasionalisme
MAKALAH
Disusun Guna
Memenuhi Tugas
Mata Kuliah :
Filsafat Umum
Dosen Pengampu
: Dr.H.M.Darori Amin,M.A.
Oleh :
Istiqomah (
1404026039 )
FAKULTAS USHULUDDIN
PRODI TAFSIR HADITS
UIN WALISONGO SEMARANG
TAHUN 2015
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Filsafat Barat modern dimulai abad 14 dan 15 ditandai kesadaran
reinesans (kelahiran kembali) yang mengacu pada gerakan keagamaan dan kemasyarakatan.
Reinesans juga memperhatikan hal-hal kongkrit yang meliputi lingkupan alam
semesta, manusia, dan kemasyarakatan.
Salah satu tokoh dari
reinesans adalah William Ockham (1295-1349). Ia memetakan cara berpikir manusia menjadi
dua bagian: Via antiqua (cara berpikir kuno) berorientasi kepada Tuhan dan
surga. Via moderna (cara
berpikir modern) yang individual, konkrit dan ke depan. Akibatnya agama dan filsafat merosot karena
dianggap kuno dan ketinggalan. Melalui garis via moderna bermunculanlah aliran filsafat: rasionalisme, empirisme dan kritisisme.
Dan dimakalah ini akan dibahas aliran filfasat barat yang pertama,
yaitu aliran rasionalisme. Dengan tujuan selain untuk memenuhi tugas matakuliah
filsafat umum, juga bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada pembaca tentang
aliran filsafat Rasionalisme. Semoga bermanfaat.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apakah pengertian dari filsafat rasionalisme?
2.
Bagaimana sejarah dari filsafat rasionalisme?
3.
Siapa tokoh dari filsafat rasionalisme?
PEMBAHASAN
A.
Sejarah Munculnya Filsafat Rasionalisme
Pada abad pertengahan, terdapat ketidak seimbangan antara akal dan
iman. Pada saat itu akal dikalahkan dengan iman secara mutlak. Tidak ada lagi
orang yang berfikir kreatif karena takut dianggap bertentangan dengan pemikiran
tokoh gereja. Hal ini menjadikan filsafat mengalami kemunduran, bahkan warisan
dari abad sebelumnya pun tak dapat dilestarikan.
Sebenarnya banyak orang yang tidak suka dengan dominasi gereja ini.
Dan ada beberapa tokoh yang dibunuh karena berusaha menentang dominasi gereja.
Pada akhirnya muncullah Descartes yang berhasil mengalahkan pengekangan gejera.
Descartes juga memisahkan antara akal dan iman. Seperti Filsafat Voltaire, ia
berpegang pada rasio teoretis tanpa agama dan keyakinan( agama) tanpa rasio
teoretis.lalu muncullah pembagian Rasionalisme menjadi dua macam yaitu dalam
bidang agama dan bilang filsafat.
Kemudian muncul istilah Renaissance. Istilah ini berasal dari
bahasa Prancis. Dalam bahasa Latin, re+nasci berarti lahir kembali (rebirth) . Biasanya
istilah Reissance digunakan oleh sejarawan untuk menunjukkan periode
kebangkitan intelektual.
Puncak dari Reinesans adalah pengetahun. Dan Descartes pun
melanjutkan pemikiran-pemikirannya yang kemudian menuntut supaya pengetahuan ilmiah tidak
berdasar pada pengalaman yang sama, karena hal yang kita alami selalu
berubah-ubah dan tidak bisa menjadi dasar bagi pengetahuan yang pasti. Ilmu
harus terdiri dari kalimat-kalimat yang ada pokok-pokok didalamnya.
Dan pada abad ke 17 ilmu-ilmu eksak (sains) mulai berkembang dari
percobaan-percobaan iseng menjadi suatu usaha ilmiah yang serius. Lalu muncul
persoalan apakah pikiran mereka dapat dianggap pikiran yang bersifat ilmiah
(pasti) atau tidak.[1]
B.
Pengertian dari Filsafat Rasionalisme
Aliran Rasionalisme muncul karena keinginannya keluar dari cara berpikir skolastik-gerejani yang dianggap tidak mampu menangani hasil-hasil temuan ilmu pengetahuan. Rasionalisme
sendiri berarti paham filsafat yang menyatakan bahwa akal adalah alat
terpenting dalam meemperoleh pengetahuan dan mengetes pengetahuan.
C.
Tokoh Filsafat Rasionalisme
Golongan rasionalis dengan tokoh-tokoh seperti Descartes, Leibniz
dkk mencari sumber dari pemikiran manusia. Pemikiran harus bersifat pasti dan
tidak bisa seluruhnya ditentukan oleh dunia luar yang kesan-kesannya berubah dan tidak menyatu.[2]
Sehingga melalui pikiran itu manusia mampu menarik kesimpulan yang logis dan
berdasarkan pikiran sendiri. Dan diantara tokoh filsafat rasionalisme yaitu:
1.
Descartes.
Descartes disebut sebagai
bapak filsafat modern. Nama aslinya adalah Rene Descartes, lahir
tahun 1596. Ia suka belajar aljabar dan
ilmu ukur, serta kurang suka dengan filsafat Aristoteles. Menurut Descartes,
filsafat Alistoteles tidak berguna. Dalam interprestasi klasik dari logika
Aristoteles semua particularia dikuasai keputusan umum, sehingga orang hanya
belajar hal yang telah diketahui.
Descartes berpendapat bahwa ilmu pengetahuan harus satu, tanpa bandingan, disusun
oleh satu orang, atas dasar satu metode yang umum. Apa yang benar adalah apa
yang jelas dan dapat dipilah-pilah
(clear and distinctively). Karena itu ilmu pengetahuan harus mengikuti ilmu
pasti. Imu ini menjadi model cara mengenal yang kebenarannya pasti. Hanya pengetahuan yang bersumber dari akal lah yang memenuhi syarat
dalam ilmu pengetahuan ilmiah.
Bagi Descartes ada satu ilmu pengetahuan yang
pasti, yaitu matematika. Sehingga ia bermaksud merencanakan suatu matesis
universalis yang menyelesaikan persoalan dengan metode yang sama.
2.
Spinoza (1632-1677)
Spinoza lahir
pada tahun 1632, dan meninggal pada tahun 1677. Nama aslinya Baruch Spinoza.
Setelah ia keluar dari agama Yahudi, ia berganti nama menjadi Benedictus de
Spinoza. Ia hidup di pinggiran kota Amsterdam.[3]
Spinoza muncul
setelah Descartes. Spinoza berpendapat bahwa apa saja yang benar-benar ada,
maka adanya itu harus abadi. Sama seperti saat dia berbicara dalam bilang
astronomi, ia berpendapat tentang aksioma, yaitu suatu kebenaran yang tidak
memerlukan pembelaan. Di dalam geometri, contoh dari aksioma adalah : jarak
terdekat antara dua titik ialah garis lurus.
Kemudian
muncul juga pendapat dari Spinoza mengenai banyaknya substansi yang hanya ada
satu. Sedikit berbeda dengan Descartes yang membagi substansi menjadi tiga
bagian yaitu tubuh (bodies), jiwa, dan Tuhan. Sedangkan Spinoza berpendapat
bahwa pada kenyataannya, bodies dan mind bukan substansi yang
berdiri sendiri. Jadi tentang pertanyaan: Apa substansi itu? Spinoza menjawab:
Satu substansi yang tak terbatas, tentang keseluruhan sifatnya kita tidak tahu.
Kita hanya tahu bahwa sifatnya ialah bodies dan mind.
Dan tentang
agama, Spinoza percaya kepada Tuhan. Namun Tuhan yang dimaksud adalah alam
semesta yang tak berkemauan, tidak melakukan sesuatu, dan tak terbatas.
3.
Leibniz
Gottfried
Wilhelm Leibniz lahir pada tahun 1746. Ia membuat sistem metafisik terakhir
sebelum mulainya filsafat pencerahan. Pemikiran Leib dipengaruhi oleh
renungan-renungan Descartes. Ia mendasarkan calculus bersama Newton tapi tidak
bergantung pada nya. Leibniz juga bergerak dibidang politik, berusaha
mendamaikan Katolik dengan Protestan. Akhir abad ke 17 Gerhard mencoba
mengumpulkan tulisan Leibniz yang sangat banyak sampai mengisi 14 jilid tebal.
Leibniz
berpendapat bahwa dunia harus dilihat dari berbagai sudut dan hanya Tuhan yang
dapat melihat kesatuan dari pendekatan-pendekaran itu.
KESIMPULAN
Aliran Rasionalisme muncul karena keinginannya keluar dari cara berpikir skolastik-gerejani yang dianggap tidak mampu menangani hasil-hasil temuan ilmu pengetahuan. Rasionalisme
sendiri berarti paham filsafat yang menyatakan bahwa akal adalah alat
terpenting dalam meemperoleh pengetahuan dan mengetes pengetahuan.
Tokoh pertama yang mencetuskan filsafat rasionalisme adalah Rene
Descartes, yang sekaligus sebagai Bapak Filsafat Modern. Tokoh filsafat
Rasionalisme yang lain adalah Spinoza dan Leibniz.
DAFTAR PUSTAKA
Brouwer M.A.W., dkk, Sejarah Filsafat Barat
Modern dan Sezaman, Bandung: Alumni, 1986
Tafsir Ahmad, Filsafat Umun Akal dan Hati
Sejak Thales sampai Capra, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003
PPT Bapak Danusiri (dosen Filsafat Umum)
[2]
Ibid, hlm.53
[3]
Ahmad Tafsir, Filsafat Umun Akal dan Hati Sejak Thales sampai Capra,
Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003, hlm.133

Tidak ada komentar:
Posting Komentar