Minggu, 14 Agustus 2016

Rasionalisme dalam Filsafat Modern


Filsafat Modern tentang Rasionalisme

MAKALAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah : Filsafat Umum

Dosen Pengampu : Dr.H.M.Darori Amin,M.A.



                                    






Oleh :

Istiqomah                       ( 1404026039 )




FAKULTAS USHULUDDIN
PRODI TAFSIR HADITS
UIN  WALISONGO SEMARANG
TAHUN 2015








PENDAHULUAN



A.    Latar Belakang

Filsafat Barat modern dimulai abad 14 dan 15 ditandai kesadaran reinesans (kelahiran kembali) yang mengacu pada gerakan keagamaan dan kemasyarakatan. Reinesans juga memperhatikan hal-hal kongkrit yang meliputi lingkupan alam semesta, manusia, dan kemasyarakatan.

Salah satu tokoh dari reinesans  adalah William Ockham (1295-1349). Ia memetakan cara berpikir manusia menjadi dua bagian: Via antiqua (cara berpikir kuno) berorientasi kepada Tuhan dan surga. Via moderna (cara berpikir modern) yang individual, konkrit dan ke depan. Akibatnya agama dan filsafat merosot karena dianggap kuno dan ketinggalan. Melalui garis via moderna bermunculanlah  aliran filsafat: rasionalisme, empirisme dan kritisisme.

Dan dimakalah ini akan dibahas aliran filfasat barat yang pertama, yaitu aliran rasionalisme. Dengan tujuan selain untuk memenuhi tugas matakuliah filsafat umum, juga bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada pembaca tentang aliran filsafat Rasionalisme. Semoga bermanfaat.



B.     Rumusan Masalah

1.      Apakah pengertian dari filsafat rasionalisme?

2.      Bagaimana sejarah dari filsafat rasionalisme?

3.      Siapa tokoh dari filsafat rasionalisme?



PEMBAHASAN



A.    Sejarah Munculnya Filsafat Rasionalisme

Pada abad pertengahan, terdapat ketidak seimbangan antara akal dan iman. Pada saat itu akal dikalahkan dengan iman secara mutlak. Tidak ada lagi orang yang berfikir kreatif karena takut dianggap bertentangan dengan pemikiran tokoh gereja. Hal ini menjadikan filsafat mengalami kemunduran, bahkan warisan dari abad sebelumnya pun tak dapat dilestarikan.

Sebenarnya banyak orang yang tidak suka dengan dominasi gereja ini. Dan ada beberapa tokoh yang dibunuh karena berusaha menentang dominasi gereja. Pada akhirnya muncullah Descartes yang berhasil mengalahkan pengekangan gejera. Descartes juga memisahkan antara akal dan iman. Seperti Filsafat Voltaire, ia berpegang pada rasio teoretis tanpa agama dan keyakinan( agama) tanpa rasio teoretis.lalu muncullah pembagian Rasionalisme menjadi dua macam yaitu dalam bidang agama dan bilang filsafat.

Kemudian muncul istilah Renaissance. Istilah ini berasal dari bahasa Prancis. Dalam bahasa Latin, re+nasci berarti lahir kembali (rebirth) . Biasanya istilah Reissance digunakan oleh sejarawan untuk menunjukkan periode kebangkitan intelektual.

Puncak dari Reinesans adalah pengetahun. Dan Descartes pun melanjutkan pemikiran-pemikirannya yang kemudian  menuntut supaya pengetahuan ilmiah tidak berdasar pada pengalaman yang sama, karena hal yang kita alami selalu berubah-ubah dan tidak bisa menjadi dasar bagi pengetahuan yang pasti. Ilmu harus terdiri dari kalimat-kalimat yang ada pokok-pokok didalamnya.

Dan pada abad ke 17 ilmu-ilmu eksak (sains) mulai berkembang dari percobaan-percobaan iseng menjadi suatu usaha ilmiah yang serius. Lalu muncul persoalan apakah pikiran mereka dapat dianggap pikiran yang bersifat ilmiah (pasti) atau tidak.[1]







B.     Pengertian dari Filsafat Rasionalisme

Aliran Rasionalisme muncul karena keinginannya keluar dari cara berpikir skolastik-gerejani yang dianggap tidak mampu menangani hasil-hasil temuan ilmu pengetahuan. Rasionalisme sendiri berarti paham filsafat yang menyatakan bahwa akal adalah alat terpenting dalam meemperoleh pengetahuan dan mengetes pengetahuan.



C.     Tokoh Filsafat Rasionalisme

Golongan rasionalis dengan tokoh-tokoh seperti Descartes, Leibniz dkk mencari sumber dari pemikiran manusia. Pemikiran harus bersifat pasti dan tidak bisa seluruhnya ditentukan oleh dunia luar yang  kesan-kesannya berubah dan tidak menyatu.[2] Sehingga melalui pikiran itu manusia mampu menarik kesimpulan yang logis dan berdasarkan pikiran sendiri. Dan diantara tokoh filsafat rasionalisme yaitu:

1.      Descartes.

Descartes disebut sebagai bapak filsafat modern. Nama aslinya adalah Rene Descartes, lahir tahun 1596.  Ia suka belajar aljabar dan ilmu ukur, serta kurang suka dengan filsafat Aristoteles. Menurut Descartes, filsafat Alistoteles tidak berguna. Dalam interprestasi klasik dari logika Aristoteles semua particularia dikuasai keputusan umum, sehingga orang hanya belajar hal yang telah diketahui.

Descartes berpendapat bahwa ilmu pengetahuan harus satu, tanpa bandingan, disusun oleh satu orang, atas dasar satu metode yang umum. Apa yang benar adalah apa yang jelas  dan dapat dipilah-pilah (clear and distinctively). Karena itu ilmu pengetahuan harus mengikuti ilmu pasti. Imu ini menjadi model cara mengenal yang kebenarannya pasti. Hanya pengetahuan yang bersumber dari akal lah yang memenuhi syarat dalam ilmu pengetahuan ilmiah.

 Bagi Descartes ada satu ilmu pengetahuan yang pasti, yaitu matematika. Sehingga ia bermaksud merencanakan suatu matesis universalis yang menyelesaikan persoalan dengan metode yang sama.

2.      Spinoza (1632-1677)

Spinoza lahir pada tahun 1632, dan meninggal pada tahun 1677. Nama aslinya Baruch Spinoza. Setelah ia keluar dari agama Yahudi, ia berganti nama menjadi Benedictus de Spinoza. Ia hidup di pinggiran kota Amsterdam.[3]

Spinoza muncul setelah Descartes. Spinoza berpendapat bahwa apa saja yang benar-benar ada, maka adanya itu harus abadi. Sama seperti saat dia berbicara dalam bilang astronomi, ia berpendapat tentang aksioma, yaitu suatu kebenaran yang tidak memerlukan pembelaan. Di dalam geometri, contoh dari aksioma adalah : jarak terdekat antara dua titik ialah garis lurus.

Kemudian muncul juga pendapat dari Spinoza mengenai banyaknya substansi yang hanya ada satu. Sedikit berbeda dengan Descartes yang membagi substansi menjadi tiga bagian yaitu tubuh (bodies), jiwa, dan Tuhan. Sedangkan Spinoza berpendapat bahwa pada kenyataannya, bodies dan mind bukan substansi yang berdiri sendiri. Jadi tentang pertanyaan: Apa substansi itu? Spinoza menjawab: Satu substansi yang tak terbatas, tentang keseluruhan sifatnya kita tidak tahu. Kita hanya tahu bahwa sifatnya ialah bodies dan mind.

Dan tentang agama, Spinoza percaya kepada Tuhan. Namun Tuhan yang dimaksud adalah alam semesta yang tak berkemauan, tidak melakukan sesuatu, dan tak terbatas.

3.      Leibniz

Gottfried Wilhelm Leibniz lahir pada tahun 1746. Ia membuat sistem metafisik terakhir sebelum mulainya filsafat pencerahan. Pemikiran Leib dipengaruhi oleh renungan-renungan Descartes. Ia mendasarkan calculus bersama Newton tapi tidak bergantung pada nya. Leibniz juga bergerak dibidang politik, berusaha mendamaikan Katolik dengan Protestan. Akhir abad ke 17 Gerhard mencoba mengumpulkan tulisan Leibniz yang sangat banyak sampai mengisi 14 jilid tebal.

            Leibniz berpendapat bahwa dunia harus dilihat dari berbagai sudut dan hanya Tuhan yang dapat melihat kesatuan dari pendekatan-pendekaran itu.endapat bahwa dunia harus diliht dari berbagai sudut dan hanya Tuhan yang dapat melihat kesatuan dari pendekatan-pen





KESIMPULAN

Aliran Rasionalisme muncul karena keinginannya keluar dari cara berpikir skolastik-gerejani yang dianggap tidak mampu menangani hasil-hasil temuan ilmu pengetahuan. Rasionalisme sendiri berarti paham filsafat yang menyatakan bahwa akal adalah alat terpenting dalam meemperoleh pengetahuan dan mengetes pengetahuan.

Tokoh pertama yang mencetuskan filsafat rasionalisme adalah Rene Descartes, yang sekaligus sebagai Bapak Filsafat Modern. Tokoh filsafat Rasionalisme yang lain adalah Spinoza dan Leibniz.



DAFTAR PUSTAKA

Brouwer M.A.W., dkk, Sejarah Filsafat Barat Modern dan Sezaman, Bandung: Alumni, 1986

Tafsir Ahmad, Filsafat Umun Akal dan Hati Sejak Thales sampai Capra, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003

PPT Bapak Danusiri (dosen Filsafat Umum)





























[1] M.A.W. Brouwer, dkk, Sejarah Filsafat Barat Modern dan Sezaman, Bandung: Alumni, 1986, hlm.51
[2] Ibid, hlm.53
[3] Ahmad Tafsir, Filsafat Umun Akal dan Hati Sejak Thales sampai Capra, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003, hlm.133

Tidak ada komentar:

Posting Komentar