MUKJIZAT AL-QUR’AN AL-KARIM
MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Ulumul Qur’an 1
Dosen Pengampu : Bpk Moh. Noor
Ichwan M.Ag
Oleh:
Istiqomah (
1404026039)
FAKULTAS
USHULUDDIN
DAN HUMANIORA
PROGRAM STUDI
TAFSIR HADITS
UIN WALISONGO SEMARANG
TAHUN 2015
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Kajian ilmu Al-Qur’an memang selalu menarik untuk dipelajari.
Bagaimana tidak, ilmu-ilmu yang masuk dalam golongan ulumul Qur’an tak pernah
berhenti, ulumul Qur’an selalu dikaji tanpa adanya kesudahan. Ilmu tafsir
contohnya, ilmu tafsir telah di bahas dari zaman dahulu namun sampai sekarang
ilmu tersebut masih menghadapi berbagai pengkajian,
perkembangan dan perdebatan.
Salah satu kajian ulumul Qur’an yang menarik adalah ilmu tentang
Kemu’jizatan Al-Qur’an atau disebut juga dengan I’jaz Al-Qur’an. Salah satu hal
yang menarik dari i’jaz Al-Qur’an adalah tantangan terbuka dari Allah yang
mempersilahkan kepada siapa saja untuk membuat bacaan yang semisal dengan
Al-Qur’an. Tantangan itu tidak hanya ditujukan kepada kaum kafir pada zaman
nabi, tapi diperuntukkan bagi semua manusia sampai kapan kapanpun.
Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan tak selamanya berdampak
baik untuk kita. Seiring dengan kemajuan IPTEK tak jarang didapati manusia yang
larut dengan modernisasi. Mereka mengesampingkan Al-Qur’an juga lupa akan
keistimewaannya. Padahal ilmu mengenai i’jaz Al-Qur’an sangat penting untuk
dipelajari. Selain untuk menambah kecintaan kita pada Kitab Suci tersebut,
mempelajari i’jaz Al-Qur’amn juga dapat menjadi tameng adanya pengaruh IPTEK
dan segala bentuk modernisasi yang menyesatkan. Jadi makalah ini dibuat selain
sebagai tugas mata kuliah Ulumul Qur’an ! yang diampu oleh Bpk. Moh. Noor
Ichwan M.Ag
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa pengertian mukjizat itu?
2.
Apa syarat-syarat mukjizat?
3.
Apa perbedaan antara mukjizat Nabi Muhammad
dengan nabi-nabi sebelumnya?
4.
Bagaimana mukjizat Al Qur’an?
A.
Pengertian Mu’jizat
Mu’jizat bisa
diartikan dengan Al-‘Ajib yang artinya sesuatu yang ajaib, menakjubkan
dan mengherankan karena orang lain tidak ada yang sanggup menandinginya.[1] Kata
Mu’jizat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai “kejadian
ajaib yang sukar dijangkau oleh kemampuan akal manusia. Kata Mu’jizat terambil
dari kata bahasa Arab A’jaza yang berarti “melemahkan atau menjadikan
tidak mampu. Pelakunya dinamai mu’jiz dan apabila kemampuannya
melemahkan pihak lain amat menonjol sehingga mampu membungkamkan lawan, ia
dinamai Mu’jizat.[2]
Mu’jizat juga
diartikan sebagai sesuatu hal luar biasa
yang disertai tantangan dan selamat dari tantangan itu.[3]
Mu’jizat juga
diartikan sebagai suatu urusan yang menyalahi kebiasaan yang disertakan dengan
perlawanan dan terlepas dari tantangan.[4]
Jadi dapat disimpulkan bahwa Mu’jizat adalah kejadian luar biasa yang dapat
melemahkan akal manusia.
B.
Syarat-Syarat Mu’jizat
Ada tiga syarat dalam Mu’jizat :
1.
Suatu yang luar dari yang dibiasakan manusia
mengenai sunnah alam dan kenyataan yang terjadi
2.
Disertai oleh penghadangan atau tantangan dari
orang yang mendustakan atau orang ragu-ragu terhadapnya.
3.
Sesuatu urusan yang tidak punya penghadangan,
lalu ada kesempatan bagi seseorang untuk menentangnya dan dia lakukan
saingannya, maka ia tidak dinamakan Mu’jizat. Ada lima hal sesuatu dapat disebut sebagai mu’jizat:
- Tidak dapat disanggupi kecuali oleh Allah
- Berbeda dari kebiasaan dan berlawanan dengan hukum alam
- Harus berupa sesuatu yang dijadikan saksi oleh Rasul sebagai bukti atas kebenaran dan pengakuannya
- Terjadi bertepatan dengan pengakuan Nabi yang mengajak bertanding menggunakan mu’jizat tersebut
5.
Tidak ada
seorang pun yang mampu menandingi dalam pertandingan itu (Ali as-Shabuni:97).
C.
Perbedaan antara Mukjizat Nabi Muhammad dengan
Nabi-nabi Sebelumnya
Sebagaimana
yang telah tertulis diatas, adanya mukjizat dikarenakan adanya penentang atau
penghalang para nabi. Allah memberi bekal mukjizat yang berbeda kepada para
nabi. Perbedaan tersebut disebabkan adanya perbedaan masalah yang dihadapi oleh
masing-masing nabi. Mukjizat nabi muhammad sebagai nabi akhir zaman tergolong
istimewa dibanding nabi-nabi sebelumnya, hal tersebut dibuktikan dengan :
1. Mukjizat nabi-nabi sebelumnya
bersifat hisyiyah (dapat di raba)
Mukjizat nabi terdahulu bersifat fisik atau
indrawi. Seperti mukjizat tongkat yang dapat berubah menjadi ular serta mampu
membelah laut; mukjizat nabi isa yang dapat menyembuhkan orang buta; mukjizat
nabi Saleh yang mampu mengeluarkan unta dari dalam batu, dan sebagainya.
Mukjizat tersebut bersifat indrawi, jadi hanya dapat dilihat dan dirasakan oleh
orang-orang yamg semasa dengan mereka.[5]
2. Mukjizat Nabi Muhammad bersifat
‘Aqliyah.
Mukjizat nabi
Muhammad bersifat ‘Aqliyah atau rasional. Mukjizat tersebut berupa Al Qur’an Al
Karim yang berdialog dengan akal dan menantang manusia untuk selamanya.[6]
Tantangan ini ditujukan oleh Allah kepada siapa saja yang ingkar terhadap nabi
saw, bahwa inilah mukjizat nabi yang paling besar yang tidak mungkin mereka
tandingi. Seperti bahasa Al Qur’an yang begitu indah dan isinya yang sangat
lengkap membuktikan betapa hebatnya mukjizat itu, dan tak ada satu orang pun
yang mampu menandinginya sampai kapanpun.
D.
Mukjizat Al Qur’an
Mukjizat
berarti sesuatu yang luar biasa sebagai bukti kenabian yang tidak ada
seorangpun mampu menandinginya, dan Al Qur’an berarti Firman Allah yang
berbahasa arab yang diturunkan kepada nabi Muhammad melalui malaikat Jibril
secara mutawatir.
Sedangkan
mukjizat Al Qur’an sendiri berarti susunan lafal dan kandungan al-Qur’an yang
dapat melemahkan ahli bahasa maupun ahli-ahli lain yang menentang al-Qur’an. Berdasarkan cara melemahkan
penentangnya, mukjizat dibagi menjadi 4, yaitu:
1.
I’jaz dalam segi bahasa
Al Qur’an
diturunkan pada masa dimana sastra tengah berkembang pesat, banyak ahli sastra
yang mahir dalam membuat syair yang indah. Namun keindahan syair dari penyair
pada zaman itu tidak mampu menandingi keindahan Al Qur’an baik dari susunan
kalimat, gaya bahasa, dan ketelitian redaksinya.[7]
Bahkan Allah menantang orang Arab melalui firman-Nya yang berbunyi:
@è% ÈûÈõ©9 ÏMyèyJtGô_$# ß§RM}$# `Éfø9$#ur #n?tã br& (#qè?ù't È@÷VÏJÎ/ #x»yd Èb#uäöà)ø9$# w tbqè?ù't ¾Ï&Î#÷WÏJÎ/ öqs9ur c%x. öNåkÝÕ÷èt/ <Ù÷èt7Ï9 #ZÎgsß ÇÑÑÈ
“ Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul
untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat
yang serupa dengan Dia, Sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi
sebagian yang lain". (Q.S. Al-Isra’: 88)
÷Pr& cqä9qà)t çm1utIøù$# ( ö@è% (#qè?ù'sù Îô³yèÎ/ 9uqß ¾Ï&Î#÷VÏiB ;M»tutIøÿãB (#qãã÷$#ur Ç`tB OçF÷èsÜtGó$# `ÏiB Èbrß «!$# bÎ) óOçFZä. tûüÏ%Ï»|¹ ÇÊÌÈ óO©9Î*sù (#qç7ÉftFó¡o öNä3s9 (#þqßJn=÷æ$$sù !$yJ¯Rr& tAÌRé& ÄNù=ÏèÎ/ «!$# br&ur Hw tm»s9Î) wÎ) uqèd ( ö@ygsù OçFRr& cqßJÎ=ó¡B ÇÊÍÈ
“Bahkan mereka mengatakan: "Muhammad telah membuat-buat Al
Quran itu", Katakanlah: "(Kalau demikian), Maka datangkanlah sepuluh
surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang
kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang
benar". Jika mereka yang kamu seru
itu tidak menerima seruanmu (ajakanmu) itu Maka ketahuilah, Sesungguhnya Al
Quran itu diturunkan dengan ilmuAllah, dan bahwasanya tidak ada Tuhan selain
Dia, Maka maukah kamu berserah diri (kepada Allah)?” (Q.S. Hud:13-14)
÷Pr& tbqä9qà)t çm1utIøù$# ( ö@è% (#qè?ù'sù ;ouqÝ¡Î/ ¾Ï&Î#÷VÏiB (#qãã÷$#ur Ç`tB OçF÷èsÜtGó$# `ÏiB Èbrß «!$# bÎ) ÷LäêYä. tûüÏ%Ï»|¹ ÇÌÑÈ
38. atau (patutkah) mereka mengatakan "Muhammad
membuat-buatnya." Katakanlah: "(Kalau benar yang kamu katakan itu),
Maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang
dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang yang
benar."
(Q.S. Yunus: 38)
Allah
telah menantang siapa saja yang tidak tercaya pada Al Qur’an untuk membuat kata yang sepadan dengan seluruh
ayat Al Qur’an, jika tidak mampu maka sepuluh surat saja dan jika tidak mampu
maka buatlah satu surat saja.[8]
Maka saat itulah terbukti bahwa tantangan Al Qur’an mampu mengalahkan kemampuan
penentangnya secara mutlak.
2.
I’jaz Al Qur’an secara Ilmiah
Al Qur’an juga
berisi pengetahuan-pengetahuan ilmiah. Pengetahuan tersebut berupa fenomena
alam yang bersifat pasti yag tidak diketahui oleh orang-orang sebelumnya.
Seperti firman Allah dalam Q.S. Faathir: 41 yang berbunyi:
¨bÎ) ©!$# ÛÅ¡ôJã ÏNºuq»yJ¡¡9$# uÚöF{$#ur br& wrâs? 4 ûÈõs9ur !$tGs9#y ÷bÎ) $yJßgs3|¡øBr& ô`ÏB 7tnr& .`ÏiB ÿ¾ÍnÏ÷èt/ 4 ¼çm¯RÎ) tb%x. $¸JÎ=ym #Yqàÿxî ÇÍÊÈ
“Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan
lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorangpun yang dapat
menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha
Pengampun.”
Ayat-ayat mengenai ilmu kealaman
tersebut memberi dorongan agar manusia menggunakan akalnya untuk memirikkan dan
memperhatikan ilmu pengetahuan. Al Qur’an sangat menganjurkan penggunaan akal
secara optimal. Sebagaimana firman Allah yang berbunyi:
È@è% (#rãÝàR$# #s$tB Îû ÅVºuq»yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur 4 $tBur ÓÍ_øóè? àM»tFy$# âäY9$#ur `tã 7Qöqs% w tbqãZÏB÷sã ÇÊÉÊÈ
“Katakanlah: "Perhatikanlah apa yaag ada di langit dan di
bumi. tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan Rasul-rasul yang memberi
peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman".
(Q.S. Yunus: 101)
ôs% ôMn=yz `ÏB öNä3Î=ö6s% ×ûsöß (#rçÅ¡sù Îû ÇÚöF{$# (#rãÝàR$$sù y#øx. tb%x. èpt6É)»tã tûüÎ/Éjs3ßJø9$# ÇÊÌÐÈ
“Sesungguhnya
telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah, karena itu berjalanlah kamu di
muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan
(rasul-rasul).”
(Q.S. Ali Imron: 137)
Serta ayat-ayat lain yang menyeru
agar manusia memperhatikan kejadian disekitarnya.
3.
I’jaz Tasyri’iyah
Yang dimaksud
dengan i’jaz tasyri’iyah adalah kemukjizatan Al Qur’an berupa aturan yang mampu
mengatur segala aspek kehidupan, baik aspek ibadah maupun muamalah. Selain
berisi tuntunan beribadah secara sempurna, Al Qur’an juga berisi undang-undang
dasar syari’at yang sempurna yang mampu menjamin tegaknya kemanusiaan dan dapat
menjadikan manusia sebagai orang-orang terbaik dan teladan tertinggi bagi yang
mengamalkannya.
Diantara ayat
tasyri’ yaitu:
$pkr'¯»t tûïÏ%©!$# (#qãYtB#uä (#qçRqä. tûüÏBº§qs% ÅÝó¡É)ø9$$Î/ uä!#ypkà ¬! öqs9ur #n?tã öNä3Å¡àÿRr& Írr& ÈûøïyÏ9ºuqø9$# tûüÎ/tø%F{$#ur 4 bÎ) ïÆä3t $ÏYxî ÷rr& #ZÉ)sù ª!$$sù 4n<÷rr& $yJÍkÍ5 ( xsù (#qãèÎ7Fs? #uqolù;$# br& (#qä9Ï÷ès? 4 bÎ)ur (#ÿ¼âqù=s? ÷rr& (#qàÊÌ÷èè? ¨bÎ*sù ©!$# tb%x. $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? #ZÎ6yz ÇÊÌÎÈ
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang
benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap
dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. jika ia Kaya ataupun miskin,
Maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu
karena ingin menyimpang dari kebenaran. dan jika kamu memutar balikkan
(kata-kata) atau enggan menjadi saksi, Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha
mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. An Nisa’:135)
4.
I’jazul Qur’an karena dapat menceritakan hal
yang ghaib
Al Qur’an juga
berisi tentang cerita hal-hal ghaib yang nyata, seperti kisah umat terdahulu
maupun hal-hal yang akan terjadi kelak. Itu termasuk diluar kemampuan kemampuan
manusia.
Diantara ayat
Al Qur’an tersebut adalah:
ù=Ï? ô`ÏB Ïä!$t7/Rr& É=øtóø9$# !$pkÏmqçR y7øs9Î) ( $tB |MZä. !$ygßJn=÷ès? |MRr& wur y7ãBöqs% `ÏB È@ö6s% #x»yd ( ÷É9ô¹$$sù ( ¨bÎ) spt6É)»yèø9$# úüÉ)FßJù=Ï9 ÇÍÒÈ
“Itu adalah di antara berita-berita penting tentang yang ghaib
yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah kamu mengetahuinya dan
tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah; Sesungguhnya kesudahan yang
baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.”
(Q.S. Hud:49)
øÎ)ur ãNä.ßÏèt ª!$# y÷nÎ) Èû÷ütGxÿͬ!$©Ü9$# $pk¨Xr& öNä3s9 cruqs?ur ¨br& uöxî ÏN#s Ïp2öq¤±9$# Ücqä3s? ö/ä3s9 ßÌãur ª!$# br& ¨,Ïtä ¨,ysø9$# ¾ÏmÏG»yJÎ=s3Î/ yìsÜø)tur tÎ/#y tûïÍÏÿ»s3ø9$# ÇÐÈ
“Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah
satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu
menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekekuatan senjatalah yang untukmu, dan
Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan
memusnahkan orang-orang kafir” (Q.S Al Anfal: 7)
Dengan adanya
mukjizat diatas, maka semakin jelaslah keistimewaan Al Qur’an sebagai bukti
kenabian nabi Muhammad saw sebagai nabi akhir zaman. Serta agama Islam sebagai
penyempurna dari agama-agama sebelumnya.
E.
Manfaat mempelajari Mu’jizat Al Qur’an
Diantara
manfaat mempelajari dan mengetahui Mu’jizat Al Qur’an adalah:
1.
Menambah keimanan seseorang
2.
Mengetahui keistimewaan Al Qur’an secara
mendalam
3.
Mengetahui keistimewaan Nabi Muhammad di
banding nabi-nabi sebelumnya
4.
Dapat terhindar dari kekufuran
5.
Menambah kecintaan terhadap AL Qur’an
KESIMPULAN
Kata Mu’jizat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan
sebagai “kejadian ajaib yang sukar dijangkau oleh kemampuan akal manusia. Kata
Mu’jizat terambil dari kata bahasa Arab A’jaza yang berarti “melemahkan
atau menjadikan tidak mampu. Pelakunya dinamai mu’jiz dan apabila
kemampuannya melemahkan pihak lain amat menonjol sehingga mampu membungkamkan
lawan, ia dinamai Mu’jizat.
Syarat-Syarat Mu’jizat ada tiga syarat dalam Mu’jizat :
1.
Suatu yang luar dari yang dibiasakan manusia
mengenai sunnah alam dan kenyataan yang terjadi
2.
Disertai oleh penghadangan atau tantangan dari
orang yang mendustakan atau orang ragu-ragu terhadapnya.
3.
Sesuatu urusan yang tidak punya penghadangan,
lalu ada kesempatan bagi seseorang untuk menentangnya dan dia lakukan saingannya,
maka ia tidak dinamakan Mu’jizat.
Macam-macam Mu’jizat ada dua, yaitu Mu’jizat
hissiyah dan Mu’jizat aqliyyah. Mu’jizat hissiyah yaitu mu’jizat yang dapat
dilihat oleh panca indera. Mu’jizat aqliyyah yaitu mu’jizat yang Allah
anugerahkan kepada nabi Muhammad Saw. Berupa kitab suci Al-qur’an karim.
DAFTAR PUSTAKA
Al Qattan
Manna’ Khalil, Studi Ilmu-ilmu Qur’an, Bogor: Litera AntarNusa, 2012
Ash Shisiqi
M.Hasbi, Ilmu-Ilmu Al Qur’an, Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2002
Kahar Masyhur, Pokok-pokok
Ulumul Qur’an, Jakarta: Rineka Cipta, 1992
Rosidon Anwar, Ulum
Al Qur’an, Bandung: Pustaka Setia, 2013
Shihab
M.Quraish, Mu;jizat Al-Qur’an, Mizan.bandung.2007
Suma M. Amin, Ulumul Qur’an, Jakarta:
Rajawali Pers, 2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar