Senin, 15 Agustus 2016

MUKJIZAT AL-QUR’AN AL-KARIM


MUKJIZAT AL-QUR’AN AL-KARIM

MAKALAH



Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah : Ulumul Qur’an 1

Dosen Pengampu : Bpk Moh. Noor Ichwan M.Ag




Oleh:

Istiqomah                      ( 1404026039)





FAKULTAS USHULUDDIN

DAN HUMANIORA

PROGRAM STUDI TAFSIR HADITS

UIN  WALISONGO SEMARANG

TAHUN 2015

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Kajian ilmu Al-Qur’an memang selalu menarik untuk dipelajari. Bagaimana tidak, ilmu-ilmu yang masuk dalam golongan ulumul Qur’an tak pernah berhenti, ulumul Qur’an selalu dikaji tanpa adanya kesudahan. Ilmu tafsir contohnya, ilmu tafsir telah di bahas dari zaman dahulu namun sampai sekarang ilmu tersebut masih  menghadapi berbagai pengkajian, perkembangan dan perdebatan.

Salah satu kajian ulumul Qur’an yang menarik adalah ilmu tentang Kemu’jizatan Al-Qur’an atau disebut juga dengan I’jaz Al-Qur’an. Salah satu hal yang menarik dari i’jaz Al-Qur’an adalah tantangan terbuka dari Allah yang mempersilahkan kepada siapa saja untuk membuat bacaan yang semisal dengan Al-Qur’an. Tantangan itu tidak hanya ditujukan kepada kaum kafir pada zaman nabi, tapi diperuntukkan bagi semua manusia sampai kapan kapanpun.

Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan tak selamanya berdampak baik untuk kita. Seiring dengan kemajuan IPTEK tak jarang didapati manusia yang larut dengan modernisasi. Mereka mengesampingkan Al-Qur’an juga lupa akan keistimewaannya. Padahal ilmu mengenai i’jaz Al-Qur’an sangat penting untuk dipelajari. Selain untuk menambah kecintaan kita pada Kitab Suci tersebut, mempelajari i’jaz Al-Qur’amn juga dapat menjadi tameng adanya pengaruh IPTEK dan segala bentuk modernisasi yang menyesatkan. Jadi makalah ini dibuat selain sebagai tugas mata kuliah Ulumul Qur’an ! yang diampu oleh Bpk. Moh. Noor Ichwan M.Ag

B.     Rumusan Masalah

1.      Apa pengertian mukjizat itu?

2.      Apa syarat-syarat mukjizat?

3.      Apa perbedaan antara mukjizat Nabi Muhammad dengan nabi-nabi sebelumnya?

4.      Bagaimana mukjizat Al Qur’an?




A.    Pengertian Mu’jizat

Mu’jizat bisa diartikan dengan Al-‘Ajib yang artinya sesuatu yang ajaib, menakjubkan dan mengherankan karena orang lain tidak ada yang sanggup menandinginya.[1] Kata Mu’jizat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai “kejadian ajaib yang sukar dijangkau oleh kemampuan akal manusia. Kata Mu’jizat terambil dari kata bahasa Arab A’jaza yang berarti “melemahkan atau menjadikan tidak mampu. Pelakunya dinamai mu’jiz dan apabila kemampuannya melemahkan pihak lain amat menonjol sehingga mampu membungkamkan lawan, ia dinamai Mu’jizat.[2]

Mu’jizat juga diartikan sebagai sesuatu hal luar biasa  yang disertai tantangan dan selamat dari tantangan itu.[3]

Mu’jizat juga diartikan sebagai suatu urusan yang menyalahi kebiasaan yang disertakan dengan perlawanan dan terlepas dari tantangan.[4] Jadi dapat disimpulkan bahwa Mu’jizat adalah kejadian luar biasa yang dapat melemahkan akal manusia.



B.       Syarat-Syarat Mu’jizat

Ada tiga syarat dalam Mu’jizat :

1.      Suatu yang luar dari yang dibiasakan manusia mengenai sunnah alam dan kenyataan yang terjadi

2.      Disertai oleh penghadangan atau tantangan dari orang yang mendustakan atau orang ragu-ragu terhadapnya.

3.      Sesuatu urusan yang tidak punya penghadangan, lalu ada kesempatan bagi seseorang untuk menentangnya dan dia lakukan saingannya, maka ia tidak dinamakan Mu’jizat. Ada lima hal sesuatu dapat disebut sebagai mu’jizat:

  1. Tidak dapat disanggupi kecuali oleh Allah
  2. Berbeda dari kebiasaan dan berlawanan dengan hukum alam
  3. Harus berupa sesuatu yang dijadikan saksi oleh Rasul sebagai bukti atas kebenaran dan pengakuannya
  4. Terjadi bertepatan dengan pengakuan Nabi yang mengajak bertanding menggunakan mu’jizat tersebut

5.      Tidak ada seorang pun yang mampu menandingi dalam pertandingan itu (Ali as-Shabuni:97).



C.     Perbedaan antara Mukjizat Nabi Muhammad dengan Nabi-nabi Sebelumnya

Sebagaimana yang telah tertulis diatas, adanya mukjizat dikarenakan adanya penentang atau penghalang para nabi. Allah memberi bekal mukjizat yang berbeda kepada para nabi. Perbedaan tersebut disebabkan adanya perbedaan masalah yang dihadapi oleh masing-masing nabi. Mukjizat nabi muhammad sebagai nabi akhir zaman tergolong istimewa dibanding nabi-nabi sebelumnya, hal tersebut dibuktikan dengan :

1. Mukjizat nabi-nabi sebelumnya bersifat hisyiyah (dapat di raba)

Mukjizat nabi terdahulu bersifat fisik atau indrawi. Seperti mukjizat tongkat yang dapat berubah menjadi ular serta mampu membelah laut; mukjizat nabi isa yang dapat menyembuhkan orang buta; mukjizat nabi Saleh yang mampu mengeluarkan unta dari dalam batu, dan sebagainya. Mukjizat tersebut bersifat indrawi, jadi hanya dapat dilihat dan dirasakan oleh orang-orang yamg semasa dengan mereka.[5]

2. Mukjizat Nabi Muhammad bersifat ‘Aqliyah.

Mukjizat nabi Muhammad bersifat ‘Aqliyah atau rasional. Mukjizat tersebut berupa Al Qur’an Al Karim yang berdialog dengan akal dan menantang manusia untuk selamanya.[6] Tantangan ini ditujukan oleh Allah kepada siapa saja yang ingkar terhadap nabi saw, bahwa inilah mukjizat nabi yang paling besar yang tidak mungkin mereka tandingi. Seperti bahasa Al Qur’an yang begitu indah dan isinya yang sangat lengkap membuktikan betapa hebatnya mukjizat itu, dan tak ada satu orang pun yang mampu menandinginya sampai kapanpun.

D.    Mukjizat Al Qur’an

Mukjizat berarti sesuatu yang luar biasa sebagai bukti kenabian yang tidak ada seorangpun mampu menandinginya, dan Al Qur’an berarti Firman Allah yang berbahasa arab yang diturunkan kepada nabi Muhammad melalui malaikat Jibril secara mutawatir.

Sedangkan mukjizat Al Qur’an sendiri berarti susunan lafal dan kandungan al-Qur’an yang dapat melemahkan ahli bahasa maupun ahli-ahli lain yang menentang  al-Qur’an. Berdasarkan cara melemahkan penentangnya, mukjizat dibagi menjadi 4, yaitu:

1.      I’jaz dalam segi bahasa

Al Qur’an diturunkan pada masa dimana sastra tengah berkembang pesat, banyak ahli sastra yang mahir dalam membuat syair yang indah. Namun keindahan syair dari penyair pada zaman itu tidak mampu menandingi keindahan Al Qur’an baik dari susunan kalimat, gaya bahasa, dan ketelitian redaksinya.[7] Bahkan Allah menantang orang Arab melalui firman-Nya yang berbunyi:

@è% ÈûÈõ©9 ÏMyèyJtGô_$# ß§RM}$# `Éfø9$#ur #n?tã br& (#qè?ù'tƒ È@÷VÏJÎ/ #x»yd Èb#uäöà)ø9$# Ÿw tbqè?ù'tƒ ¾Ï&Î#÷WÏJÎ/ öqs9ur šc%x. öNåkÝÕ÷èt/ <Ù÷èt7Ï9 #ZŽÎgsß ÇÑÑÈ  

“ Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan Dia, Sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain". (Q.S. Al-Isra’: 88)



÷Pr& šcqä9qà)tƒ çm1uŽtIøù$# ( ö@è% (#qè?ù'sù ÎŽô³yèÎ/ 9uqß ¾Ï&Î#÷VÏiB ;M»tƒuŽtIøÿãB (#qãã÷Š$#ur Ç`tB OçF÷èsÜtGó$# `ÏiB Èbrߊ «!$# bÎ) óOçFZä. tûüÏ%Ï»|¹ ÇÊÌÈ   óO©9Î*sù (#qç7ŠÉftFó¡o öNä3s9 (#þqßJn=÷æ$$sù !$yJ¯Rr& tAÌRé& ÄNù=ÏèÎ/ «!$# br&ur Hw tm»s9Î) žwÎ) uqèd ( ö@ygsù OçFRr& šcqßJÎ=ó¡B ÇÊÍÈ  

“Bahkan mereka mengatakan: "Muhammad telah membuat-buat Al Quran itu", Katakanlah: "(Kalau demikian), Maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar".  Jika mereka yang kamu seru itu tidak menerima seruanmu (ajakanmu) itu Maka ketahuilah, Sesungguhnya Al Quran itu diturunkan dengan ilmuAllah, dan bahwasanya tidak ada Tuhan selain Dia, Maka maukah kamu berserah diri (kepada Allah)?” (Q.S. Hud:13-14)



÷Pr& tbqä9qà)tƒ çm1uŽtIøù$# ( ö@è% (#qè?ù'sù ;ouqÝ¡Î/ ¾Ï&Î#÷VÏiB (#qãã÷Š$#ur Ç`tB OçF÷èsÜtGó$# `ÏiB Èbrߊ «!$# bÎ) ÷LäêYä. tûüÏ%Ï»|¹ ÇÌÑÈ  

38. atau (patutkah) mereka mengatakan "Muhammad membuat-buatnya." Katakanlah: "(Kalau benar yang kamu katakan itu), Maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang yang benar."

(Q.S. Yunus: 38)

          Allah telah menantang siapa saja yang tidak tercaya pada Al Qur’an  untuk membuat kata yang sepadan dengan seluruh ayat Al Qur’an, jika tidak mampu maka sepuluh surat saja dan jika tidak mampu maka buatlah satu surat saja.[8] Maka saat itulah terbukti bahwa tantangan Al Qur’an mampu mengalahkan kemampuan penentangnya secara mutlak.

2.      I’jaz Al Qur’an secara Ilmiah

Al Qur’an juga berisi pengetahuan-pengetahuan ilmiah. Pengetahuan tersebut berupa fenomena alam yang bersifat pasti yag tidak diketahui oleh orang-orang sebelumnya. Seperti firman Allah dalam Q.S. Faathir: 41 yang berbunyi:

 ¨bÎ) ©!$# ہšôJムÏNºuq»yJ¡¡9$# uÚöF{$#ur br& Ÿwrâs? 4 ûÈõs9ur !$tGs9#y ÷bÎ) $yJßgs3|¡øBr& ô`ÏB 7tnr& .`ÏiB ÿ¾ÍnÏ÷èt/ 4 ¼çm¯RÎ) tb%x. $¸JŠÎ=ym #Yqàÿxî ÇÍÊÈ  

“Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.”

Ayat-ayat mengenai ilmu kealaman tersebut memberi dorongan agar manusia menggunakan akalnya untuk memirikkan dan memperhatikan ilmu pengetahuan. Al Qur’an sangat menganjurkan penggunaan akal secara optimal. Sebagaimana firman Allah yang berbunyi:

È@è% (#rãÝàR$# #sŒ$tB Îû ÅVºuq»yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur 4 $tBur ÓÍ_øóè? àM»tƒFy$# âäY9$#ur `tã 7Qöqs% žw tbqãZÏB÷sムÇÊÉÊÈ  

“Katakanlah: "Perhatikanlah apa yaag ada di langit dan di bumi. tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan Rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman".

 (Q.S. Yunus: 101)

ôs% ôMn=yz `ÏB öNä3Î=ö6s% ×ûsöß (#r玍šsù Îû ÇÚöF{$# (#rãÝàR$$sù y#øx. tb%x. èpt6É)»tã tûüÎ/Éjs3ßJø9$# ÇÊÌÐÈ  

Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah, karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).”

(Q.S. Ali Imron: 137)

Serta ayat-ayat lain yang menyeru agar manusia memperhatikan kejadian disekitarnya.

3.      I’jaz Tasyri’iyah

Yang dimaksud dengan i’jaz tasyri’iyah adalah kemukjizatan Al Qur’an berupa aturan yang mampu mengatur segala aspek kehidupan, baik aspek ibadah maupun muamalah. Selain berisi tuntunan beribadah secara sempurna, Al Qur’an juga berisi undang-undang dasar syari’at yang sempurna yang mampu menjamin tegaknya kemanusiaan dan dapat menjadikan manusia sebagai orang-orang terbaik dan teladan tertinggi bagi yang mengamalkannya.

Diantara ayat tasyri’ yaitu:

 $pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãYtB#uä (#qçRqä. tûüÏBº§qs% ÅÝó¡É)ø9$$Î/ uä!#ypkà­ ¬! öqs9ur #n?tã öNä3Å¡àÿRr& Írr& ÈûøïyÏ9ºuqø9$# tûüÎ/tø%F{$#ur 4 bÎ) ïÆä3tƒ $ÏYxî ÷rr& #ZŽÉ)sù ª!$$sù 4n<÷rr& $yJÍkÍ5 ( Ÿxsù (#qãèÎ7­Fs? #uqolù;$# br& (#qä9Ï÷ès? 4 bÎ)ur (#ÿ¼âqù=s? ÷rr& (#qàÊ̍÷èè? ¨bÎ*sù ©!$# tb%x. $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? #ZŽÎ6yz ÇÊÌÎÈ  

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. jika ia Kaya ataupun miskin, Maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. An Nisa’:135)

4.      I’jazul Qur’an karena dapat menceritakan hal yang ghaib

Al Qur’an juga berisi tentang cerita hal-hal ghaib yang nyata, seperti kisah umat terdahulu maupun hal-hal yang akan terjadi kelak. Itu termasuk diluar kemampuan kemampuan manusia.

Diantara ayat Al Qur’an tersebut adalah:

šù=Ï? ô`ÏB Ïä!$t7/Rr& É=øtóø9$# !$pkŽÏmqçR y7øs9Î) ( $tB |MZä. !$ygßJn=÷ès? |MRr& Ÿwur y7ãBöqs% `ÏB È@ö6s% #x»yd ( ÷ŽÉ9ô¹$$sù ( ¨bÎ) spt6É)»yèø9$# šúüÉ)­FßJù=Ï9 ÇÍÒÈ  

“Itu adalah di antara berita-berita penting tentang yang ghaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah; Sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.”

(Q.S. Hud:49)

øŒÎ)ur ãNä.ßÏètƒ ª!$# y÷nÎ) Èû÷ütGxÿͬ!$©Ü9$# $pk¨Xr& öNä3s9 šcrŠuqs?ur ¨br& uŽöxî ÏN#sŒ ÏpŸ2öq¤±9$# Ücqä3s? ö/ä3s9 ߃̍ãƒur ª!$# br& ¨,Ïtä ¨,ysø9$# ¾ÏmÏG»yJÎ=s3Î/ yìsÜø)tƒur tÎ/#yŠ tûï͍Ïÿ»s3ø9$# ÇÐÈ  

“Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekekuatan senjatalah yang untukmu, dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir” (Q.S Al Anfal: 7)

Dengan adanya mukjizat diatas, maka semakin jelaslah keistimewaan Al Qur’an sebagai bukti kenabian nabi Muhammad saw sebagai nabi akhir zaman. Serta agama Islam sebagai penyempurna dari agama-agama sebelumnya.



E.     Manfaat mempelajari Mu’jizat Al Qur’an

Diantara manfaat mempelajari dan mengetahui Mu’jizat Al Qur’an adalah:

1.      Menambah keimanan seseorang

2.      Mengetahui keistimewaan Al Qur’an secara mendalam

3.      Mengetahui keistimewaan Nabi Muhammad di banding nabi-nabi sebelumnya

4.      Dapat terhindar dari kekufuran

5.      Menambah kecintaan terhadap AL Qur’an

















                                                                                                                     




KESIMPULAN



Kata Mu’jizat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai “kejadian ajaib yang sukar dijangkau oleh kemampuan akal manusia. Kata Mu’jizat terambil dari kata bahasa Arab A’jaza yang berarti “melemahkan atau menjadikan tidak mampu. Pelakunya dinamai mu’jiz dan apabila kemampuannya melemahkan pihak lain amat menonjol sehingga mampu membungkamkan lawan, ia dinamai Mu’jizat.

Syarat-Syarat Mu’jizat ada tiga syarat dalam Mu’jizat :

1.      Suatu yang luar dari yang dibiasakan manusia mengenai sunnah alam dan kenyataan yang terjadi

2.      Disertai oleh penghadangan atau tantangan dari orang yang mendustakan atau orang ragu-ragu terhadapnya.

3.      Sesuatu urusan yang tidak punya penghadangan, lalu ada kesempatan bagi seseorang untuk menentangnya dan dia lakukan saingannya, maka ia tidak dinamakan Mu’jizat.

Macam-macam Mu’jizat ada dua, yaitu Mu’jizat hissiyah dan Mu’jizat aqliyyah. Mu’jizat hissiyah yaitu mu’jizat yang dapat dilihat oleh panca indera. Mu’jizat aqliyyah yaitu mu’jizat yang Allah anugerahkan kepada nabi Muhammad Saw. Berupa kitab suci Al-qur’an karim.




DAFTAR PUSTAKA



Al Qattan Manna’ Khalil, Studi Ilmu-ilmu Qur’an, Bogor: Litera AntarNusa, 2012

Ash Shisiqi M.Hasbi, Ilmu-Ilmu Al Qur’an, Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2002

Kahar Masyhur, Pokok-pokok Ulumul Qur’an, Jakarta: Rineka Cipta, 1992

Rosidon Anwar, Ulum Al Qur’an, Bandung: Pustaka Setia, 2013

Shihab M.Quraish, Mu;jizat Al-Qur’an, Mizan.bandung.2007

Suma M. Amin, Ulumul Qur’an, Jakarta: Rajawali Pers, 2013







[1]M. Amin Suma, Ulumul Qur’an, Jakarta: Rajawali Pers, 2013, hlm.154
[2] M.Quraish Shihab, Mu;jizat Al-Qur’an, Mizan.bandung.2007. hal. 25
[3] Manna’ Khalil Al Qattan, Studi Ilmu-ilmu Qur’an, Bogor: Litera AntarNusa, 2012, hlm.371
[4] M.Hasbi Ash Shisiqi, Ilmu-Ilmu Al Qur’an, Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2002, hlm.317
[5] Kahar Masyhur, Pokok-pokok Ulumul Qur’an, Jakarta: Rineka Cipta, hlm.143
[6] Manna’ Khalil Al Qattan, hlm.370
[7] Rosidon Anwar, Ulum Al Qur’an, Bandung: Pustaka Setia, hlm.193-195
[8] Manna’ Khalil Al Qattan, hlm.372

Tidak ada komentar:

Posting Komentar