Minggu, 14 Agustus 2016

Analisis Tafsir tentang Lingkungan Hidup


Tafsir tentang Lingkungan Hidup

MAKALAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah : Taafsir

Dosen Pengampu : Bpk Iing Misbahudin

 



Oleh :

Istatik Fina K.                (1404026037)

Jundatur Rohmah   (1404026038)

Istiqomah                       ( 1404026039 )



FAKULTAS USHULUDDIN

PRODI TAFSIR HADITS

UIN  WALISONGO SEMARANG

TAHUN 2015




PENDAHULUAN



1.        Latar Belakang

     Allah menciptakan berbagai peraturan untuk kebaikan umat-Nya. Dan aturan itu telah termuat jelas di dalam Al Quran. Namun tidak jarang ayat-ayat itu tidak terungkap secara jelas dihadapan khalayak umum.

     Makalah ini ditulis selain sebagai tugas mata kuliah Tafsir, juga dibuat untuk memahamkan umat Islam dalam memahami ayat-ayat yang berkaitan dengan lingkungan hidup. Dan pemakalah berharap dengan adanya makalah ini dapat mengurangi adanya perilaku-perilaku yang merusak lingkungan hidup.Semoga bermanfaat.

2.        Rumusan Masalah

a.     Bagaimana penjelasan QS.Al Maidah : 33?

b.    Bagaimana penjelasan QS. Al Anfal: 52-53?

c.     Bagaimana penjelasan tentang QS. Al Arof: 78 & 91?



  

PEMBAHASAN



QS. Al Maidah: 33

$yJ¯RÎ) (#ätÂty_ tûïÏ%©!$# tbqç/Í$ptä ©!$# ¼ã&s!qßuur tböqyèó¡tƒur Îû ÇÚöF{$# #·Š$|¡sù br& (#þqè=­Gs)ム÷rr& (#þqç6¯=|Áム÷rr& yì©Üs)è? óOÎgƒÏ÷ƒr& Nßgè=ã_ör&ur ô`ÏiB A#»n=Åz ÷rr& (#öqxÿYムšÆÏB ÇÚöF{$# 4 šÏ9ºsŒ óOßgs9 Ó÷Åz Îû $u÷R9$# ( óOßgs9ur Îû ÍotÅzFy$# ë>#xtã íOŠÏàtã ÇÌÌÈ   33. Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik[414], atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar,

            Surat Al Maidah ayat 3 berbicara tentang perampokan yang dapat mengakibatkan pembunuhan, tetapi dengan sanksi hukuman yang berbeda. Disini ditegaskan bahwa balasan yang adil dan setimpal terhadap orang yang memerangi Allah dan Rosul saw dengan cara melanggar ketentuan-ketuannya seperti, melakukan pembunuhan, perampokan, atau pencurian dengan menakut-nakuti masyarakat tanpa mengambil harta mereka maka hukumannya dibunuh tanpa ampun, dan jika mereka merampok dan membunuh maka hukumannya dibunuh dan disalib, jika mereka merampok tanpa membunuh maka hukumannya dipotong tangan  kanan dan kaki kiri dengan bertimbal balik, jika hanya menakut-nakuti masyarakat tanpa mengambil harta dan membunuh maka hukumannya diasingkan atau dipenjara sebagai penghinaan mereka didunia dan diakhirat mereka akan di adzab jika mereka tidak bertobat.[1]







Surat Al Anfal: 52-53

>ù&yx. ÉA#uä šcöqtãöÏù   tûïÏ%©!$#ur `ÏB öNÎgÎ=ö7s% 4 (#rãxÿx. ÏM»tƒ$t«Î/ «!$# ãNèdxs{r'sù ª!$# óOÎgÎ/qçRäÎ/ 3 ¨bÎ) ©!$# AÈqs% ߃Ïx© É>$s)Ïèø9$# ÇÎËÈ   y7Ï9ºsŒ  cr'Î/ ©!$# öNs9 à7tƒ #ZŽÉitóãB ºpyJ÷èÏoR $ygyJyè÷Rr& 4n?tã BQöqs% 4Ó®Lym (#rçŽÉitóム$tB öNÍkŦàÿRr'Î/   žcr&ur ©!$# ììÏJy ÒOŠÎ=tæ ÇÎÌÈ  

52. (keadaan mereka) serupa dengan Keadaan Fir'aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya. mereka mengingkari ayat-ayat Allah, Maka Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Amat keras siksaan-Nya.

53. (siksaan) yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan meubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu meubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri[621], dan Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.

     Surat Al-Anfal bermakna rampasan perang, surat ini berbicara tentang hukum pembagian harta rampasan perang. Yaitu tentang peperangan pertama Rosul saw bersama kaum muslim melawan kaum Musrik Mekah di suatu lembah yang bernama Badar (Perang badar).[2]

  Pada surat Al Anfal memberi contoh sesosok orang kafir yang dibicarakan dalam al quran. Ayat ini menyatakan keadaan dan kebiasaan seseorang yang serupa dengan kebiasaan yang mendarah daging dalam diri firaun dan pengikutnya, serupa juga dengan keadaan orang-orang kafir yang hidup sebelum mereka, seperti kaum nabi nuh, nabu hud, nabi saleh, dan nabi luth as. Mereka semua mendustakaan ayat-ayat yang tertulis dalam kitab suci atau yang tampak dialam raya. Padahal ayat-ayat itu bersumber dari allah maka allah menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih.

  Siksa allah itu dikarenakan sikap batin mereka yang tidak mensyukuri nikmat allah dan menurut surat al anfal ayat 53 bahwa allah tidak akan mengubah nikmat yang telah dianugerahkannya kepada suatu kaum hingga kaum itu sendiri yang mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.[3]

  Jadi ayat 52  tersebut menjelaskan bahwa para pendurhaka sejak dulu hingga sekarang memiliki persemaan yaitu tidak mau memperhatikan ayat-ayat allah dan mengambil pelajaran dari apa yang ada di alam sekitar. Dan ayat 53 menjelaskan bahwa perubahan sikap dari baik ke buruk dan sebaliknya bermula dari perubahan sikap batin, seperti perubahan tekad, sikap, pengetahuan dan sebagainya.

  Dan ayat 53 menjelaskan bahwa Allah tidak akan mencabut nikmat yang telah dilimpahkan-Nya kepada sesuatu kaum, selama kaum itu tetap taat dan bersyukur kepada Allah.

Al Araf: 78

Oßgø?xs{r'sù èpxÿô_§9$# (#qßst7ô¹r'sù Îû öNÏdÍ#yŠ tûüÏJÏW»y_ ÇÐÑÈ  

Karena itu mereka ditimpa gempa, Maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka.

          Surat al araf menerangkan mereka orang-orang yang ditimpa gonjangan sehingga mereka tidak mempunyai kekuatan apa pun, lalu mati ditempat tinggal mereka. Dapat diketahui penjelasan ayat tersebut dengan munasabah ayat sebelumnya yaitu ayat 77 yang menjelaskan bahwa azab itu diturunkan karena kedurhakaa, kesombongan, dan perilaku kaum nabi shaleh yang melampaui batas yaitu mereka telah mengabaikan tuntunan allah dengan mengganggu unta yang merupakan ciptaan allah dan berkata hai shaleh, datangkan kepada kami apa yang engkau janjikan,( ancamanmu) bahwa kalau kami menyentuh unta dengan gangguan maka kami akan ditimpa siksa. Datangkanlah kepada kami siksa itu sekarang juga, kalau kamu termasuk kelompok yang diutus allah. Kami yakin bahwa engkau tidak akan mampu memenuhi ancaman itu. Maka datanglah siksaan itu secara seketika yaitu dengan gonjangan disertai rasa takut, dan ketidak mampuan bergerak dan mereka mati seketika.[4]

          Jadi kesimpulan ayat tersebut yaitu mereka menantng nabi Shaleh meskipun nabi shaleh dapat memberikan  bukti kerasulannya sebagai mukjizat sesuai dengan permintaan kaumnya. Mukjizat tersebut berupa seekor unta yang diciptakan Allah tidak menurut kebiasaan, namun kaumnya tetap menantangnya, bahkan mereka menyembelih unta tersebut.

          Karena kedurhakaan kaum Samud sudah melampaui batas, bahkan mereka menuntut azab yang dijanjikan oleh Nabi Saleh, maka Allah menurunkan azabnya berupa petir yang dahsyat sehingga mereka binasa, kecuali orang yang beriman.[5]

Al Araf: 91

ãNåkøExs{r'sù èpxÿô_§9$# (#qßst7ô¹r'sù Îû öNÏdÍ#yŠ šúüÏJÏW»y_ ÇÒÊÈ

kemudian mereka ditimpa gempa, Maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka,

Ayat 91 menjelaskan menjelaskan jatuhnya siksa kepada kaum Nabi Syuaib berupa gempa yang menggonjangkan bumi tempat tinggal mereka, sekaligus menggonjangkan hati mereka sehingga jasmani mereka ditimpa reruntuhan , yang menjadikan mereka mayat-mayat yang bergelimpangan dalam kediaman mereka. Demikianlah keadaan mereka yang menilai beliau berbohong. Mereka ditimpa siksa yang meluluh lantakkan  mereka,  seolah-olahmereka belum pernah bertempat tinggal disana karena tidak ada lagi bekas-bekas peninggalan yang menjadi bukti keberadaan mereka dan itu juga berarti mereka itulah orang-orang yang merugi didunia dan akhirat.[6]





Kesimpulan

Berdasarkan ayat Al MAidah:33; Al Anfal:52-53; dan Al Araf: 78 & 91, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa Allah melindungi alam semesta beserta isinya dengan membuat aturan-aturan untuk menjaga lingkungan hidup serta membuat sanksi bagi pelanggarnya. Dan Al Quran memuat kisah-kisah terdahulu sebagai pelajaran untuk umat Islam. Jadi, mari kita jaga bersama keamanan dan kelestarian ligkungan hidup.



DAFTAR PUSTAKA

Sihab M.Quraisy, tafsir al misbah, Jakarta:Lentera Hati, 2010

Sihab M.Quraisy, tafsir al lubab,  Jakarta:Lentera Hati,2010.

Sihab M.Quraisy,tafsir al misbah,  Jakarta:Lenter Hati, 2010





[1] M. Qurais syihab, tafsir al misbah,(Jakarta: Lentera Hati, 2006), hal. 83-84.
[2]  M.quraisy syihab,tafsir al misbah,(Jakarta:Lentera Hati,2010), hal.445.
[3] M.quraisy syihab,tafsir al lubab,(Jakarta:Lentera Hati,2010),hal. 527-528.
[4] M.Quraisy syihab,tafsir al misbah,(Jakarta:Lentera Hati,2010),hal.78.
[5] Kementerian Agama RI,Al-qur’an dan tafsirnya,(Jakarta:Lentera abadi,2010),hal.389.
[6] M.quraisy syihab,tafsir al lubab,(Jakarta:Lentera Hati,2010),hal.449

Tidak ada komentar:

Posting Komentar