Tafsir tentang
Lingkungan Hidup
MAKALAH
Disusun Guna
Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Taafsir
Dosen Pengampu
: Bpk Iing Misbahudin
Oleh :
Istatik Fina
K. (1404026037)
Jundatur
Rohmah (1404026038)
Istiqomah (
1404026039 )
FAKULTAS USHULUDDIN
PRODI TAFSIR HADITS
UIN WALISONGO SEMARANG
TAHUN 2015
PENDAHULUAN
1.
Latar Belakang
Allah menciptakan berbagai peraturan untuk
kebaikan umat-Nya. Dan aturan itu telah termuat jelas di dalam Al Qur’an. Namun tidak
jarang ayat-ayat itu tidak terungkap secara jelas dihadapan khalayak umum.
Makalah ini ditulis selain sebagai tugas
mata kuliah Tafsir, juga dibuat untuk memahamkan umat Islam dalam memahami
ayat-ayat yang berkaitan dengan lingkungan hidup. Dan pemakalah berharap dengan
adanya makalah ini dapat mengurangi adanya perilaku-perilaku yang merusak
lingkungan hidup.Semoga bermanfaat.
2.
Rumusan Masalah
a.
Bagaimana penjelasan QS.Al Maidah : 33?
b.
Bagaimana penjelasan QS. Al Anfal: 52-53?
c.
Bagaimana penjelasan tentang QS. Al A’rof: 78 &
91?
PEMBAHASAN
QS. Al Maidah: 33
$yJ¯RÎ) (#ätÂty_ tûïÏ%©!$# tbqç/Í$ptä ©!$# ¼ã&s!qßuur tböqyèó¡tur
Îû ÇÚöF{$# #·$|¡sù br& (#þqè=Gs)ã ÷rr& (#þqç6¯=|Áã ÷rr& yì©Üs)è? óOÎgÏ÷r& Nßgè=ã_ör&ur ô`ÏiB
A#»n=Åz ÷rr& (#öqxÿYã ÆÏB ÇÚöF{$# 4 Ï9ºs óOßgs9 Ó÷Åz Îû $u÷R9$# ( óOßgs9ur
Îû ÍotÅzFy$# ë>#xtã íOÏàtã ÇÌÌÈ 33. Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi
Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh
atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik[414],
atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). yang demikian itu (sebagai)
suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan
yang besar,
Surat Al Maidah ayat 3 berbicara
tentang perampokan yang dapat mengakibatkan pembunuhan, tetapi dengan sanksi
hukuman yang berbeda. Disini ditegaskan bahwa balasan yang adil dan setimpal
terhadap orang yang memerangi Allah dan Rosul saw dengan cara melanggar
ketentuan-ketuannya seperti, melakukan pembunuhan, perampokan, atau pencurian
dengan menakut-nakuti masyarakat tanpa mengambil harta mereka maka hukumannya
dibunuh tanpa ampun, dan jika mereka merampok dan membunuh maka hukumannya
dibunuh dan disalib, jika mereka merampok tanpa membunuh maka hukumannya
dipotong tangan kanan dan kaki kiri
dengan bertimbal balik, jika hanya menakut-nakuti masyarakat tanpa mengambil
harta dan membunuh maka hukumannya diasingkan atau dipenjara sebagai penghinaan
mereka didunia dan diakhirat mereka akan di adzab jika mereka tidak bertobat.[1]
Surat Al Anfal: 52-53
>ù&yx. ÉA#uä cöqtãöÏù tûïÏ%©!$#ur `ÏB öNÎgÎ=ö7s% 4 (#rãxÿx. ÏM»t$t«Î/ «!$# ãNèdxs{r'sù ª!$# óOÎgÎ/qçRäÎ/ 3 ¨bÎ) ©!$# AÈqs% ßÏx© É>$s)Ïèø9$# ÇÎËÈ y7Ï9ºs cr'Î/ ©!$# öNs9 à7t #ZÉitóãB ºpyJ÷èÏoR $ygyJyè÷Rr& 4n?tã BQöqs% 4Ó®Lym (#rçÉitóã $tB öNÍkŦàÿRr'Î/ cr&ur ©!$# ììÏJy ÒOÎ=tæ ÇÎÌÈ
52. (keadaan
mereka) serupa dengan Keadaan Fir'aun dan pengikut-pengikutnya serta
orang-orang yang sebelumnya. mereka mengingkari ayat-ayat Allah, Maka Allah
menyiksa mereka disebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Amat
keras siksaan-Nya.
53. (siksaan)
yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan
meubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga
kaum itu meubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri[621], dan
Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.
Surat
Al-Anfal bermakna rampasan perang, surat ini berbicara tentang hukum pembagian
harta rampasan perang. Yaitu tentang peperangan pertama Rosul saw bersama kaum
muslim melawan kaum Musrik Mekah di suatu lembah yang bernama Badar (Perang
badar).[2]
Pada
surat Al Anfal memberi contoh sesosok orang kafir yang dibicarakan dalam al
quran. Ayat ini menyatakan keadaan dan kebiasaan seseorang yang serupa dengan
kebiasaan yang mendarah daging dalam diri fir’aun dan
pengikutnya, serupa juga dengan keadaan orang-orang kafir yang hidup sebelum
mereka, seperti kaum nabi nuh, nabu hud, nabi saleh, dan nabi luth as. Mereka
semua mendustakaan ayat-ayat yang tertulis dalam kitab suci atau yang tampak
dialam raya. Padahal ayat-ayat itu bersumber dari allah maka allah menyiksa
mereka dengan siksaan yang pedih.
Siksa
allah itu dikarenakan sikap batin mereka yang tidak mensyukuri nikmat allah dan
menurut surat al anfal ayat 53 bahwa allah tidak akan mengubah nikmat yang
telah dianugerahkannya kepada suatu kaum hingga kaum itu sendiri yang mengubah
apa yang ada pada diri mereka sendiri.[3]
Jadi
ayat 52 tersebut menjelaskan bahwa para
pendurhaka sejak dulu hingga sekarang memiliki persemaan yaitu tidak mau
memperhatikan ayat-ayat allah dan mengambil pelajaran dari apa yang ada di alam
sekitar. Dan ayat 53 menjelaskan bahwa perubahan sikap dari baik ke buruk dan
sebaliknya bermula dari perubahan sikap batin, seperti perubahan tekad, sikap,
pengetahuan dan sebagainya.
Dan
ayat 53 menjelaskan bahwa Allah tidak akan mencabut nikmat yang telah
dilimpahkan-Nya kepada sesuatu kaum, selama kaum itu tetap taat dan bersyukur
kepada Allah.
Al A’raf: 78
Oßgø?xs{r'sù èpxÿô_§9$# (#qßst7ô¹r'sù Îû öNÏdÍ#y tûüÏJÏW»y_ ÇÐÑÈ
“Karena itu mereka ditimpa gempa, Maka
jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka”.
Surat al a’raf menerangkan
mereka orang-orang yang ditimpa gonjangan sehingga mereka tidak mempunyai
kekuatan apa pun, lalu mati ditempat tinggal mereka. Dapat diketahui penjelasan
ayat tersebut dengan munasabah ayat sebelumnya yaitu ayat 77 yang menjelaskan
bahwa azab itu diturunkan karena kedurhakaa, kesombongan, dan perilaku kaum
nabi shaleh yang melampaui batas yaitu mereka telah mengabaikan tuntunan allah
dengan mengganggu unta yang merupakan ciptaan allah dan berkata “hai shaleh,
datangkan kepada kami apa yang engkau janjikan,( ancamanmu) bahwa kalau kami
menyentuh unta dengan gangguan maka kami akan ditimpa siksa. Datangkanlah
kepada kami siksa itu sekarang juga, kalau kamu termasuk kelompok yang diutus
allah. Kami yakin bahwa engkau tidak akan mampu memenuhi ancaman itu. Maka
datanglah siksaan itu secara seketika yaitu dengan gonjangan disertai rasa
takut, dan ketidak mampuan bergerak dan mereka mati seketika.[4]
Jadi kesimpulan
ayat tersebut yaitu mereka menantng nabi Shaleh meskipun nabi shaleh dapat
memberikan bukti kerasulannya sebagai
mukjizat sesuai dengan permintaan kaumnya. Mukjizat tersebut berupa seekor unta
yang diciptakan Allah tidak menurut kebiasaan, namun kaumnya tetap
menantangnya, bahkan mereka menyembelih unta tersebut.
Karena kedurhakaan
kaum Samud sudah melampaui batas, bahkan mereka menuntut azab yang dijanjikan
oleh Nabi Saleh, maka Allah menurunkan azabnya berupa petir yang dahsyat
sehingga mereka binasa, kecuali orang yang beriman.[5]
Al A’raf: 91
ãNåkøExs{r'sù èpxÿô_§9$# (#qßst7ô¹r'sù Îû öNÏdÍ#y úüÏJÏW»y_ ÇÒÊÈ
“kemudian mereka
ditimpa gempa, Maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam
rumah-rumah mereka,”
Ayat 91 menjelaskan menjelaskan jatuhnya siksa kepada kaum Nabi
Syu’aib berupa gempa yang menggonjangkan bumi tempat tinggal mereka,
sekaligus menggonjangkan hati mereka sehingga jasmani mereka ditimpa reruntuhan
, yang menjadikan mereka mayat-mayat yang bergelimpangan dalam kediaman mereka.
Demikianlah keadaan mereka yang menilai beliau berbohong. Mereka ditimpa siksa
yang meluluh lantakkan mereka, seolah-olahmereka belum pernah bertempat
tinggal disana karena tidak ada lagi bekas-bekas peninggalan yang menjadi bukti
keberadaan mereka dan itu juga berarti mereka itulah orang-orang yang merugi
didunia dan akhirat.[6]
Kesimpulan
Berdasarkan
ayat Al MAidah:33; Al Anfal:52-53; dan Al A’raf: 78 &
91, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa Allah melindungi alam semesta beserta
isinya dengan membuat aturan-aturan untuk menjaga lingkungan hidup serta
membuat sanksi bagi pelanggarnya. Dan Al Qur’an memuat
kisah-kisah terdahulu sebagai pelajaran untuk umat Islam. Jadi, mari kita jaga
bersama keamanan dan kelestarian ligkungan hidup.
DAFTAR PUSTAKA
Sihab
M.Quraisy, tafsir al misbah, Jakarta:Lentera Hati, 2010
Sihab
M.Quraisy, tafsir al lubab,
Jakarta:Lentera Hati,2010.
Sihab
M.Quraisy,tafsir al misbah,
Jakarta:Lenter Hati, 2010
[1] M. Qurais syihab, tafsir al misbah,(Jakarta:
Lentera Hati, 2006), hal. 83-84.
[2] M.quraisy syihab,tafsir al
misbah,(Jakarta:Lentera Hati,2010), hal.445.
[3]
M.quraisy syihab,tafsir al lubab,(Jakarta:Lentera Hati,2010),hal. 527-528.
[4]
M.Quraisy syihab,tafsir al misbah,(Jakarta:Lentera Hati,2010),hal.78.
[5]
Kementerian Agama RI,Al-qur’an dan tafsirnya,(Jakarta:Lentera
abadi,2010),hal.389.
[6]
M.quraisy syihab,tafsir al lubab,(Jakarta:Lentera Hati,2010),hal.449

Tidak ada komentar:
Posting Komentar